Berita Terkini

Kala Sri Mulyani Berdiplomasi di Depan Masyarakat Amerika

Akhir sesi presentasi saat Gala Dinner US-Indonesia Society (USINDO), Rabu, 18 April 2018, bukan hanya menjadi ruang bagi Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati untuk menyinggung tentang hubungan antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) yang sudah terjalin selama ini. Kesempatan tersebut juga menjadi ruang diplomasi di depan masyarakat Amerika dengan berbagai macam latar belakang.

Acara Gala Dinner sendiri menghadirkan para investor, policy maker, maupun para pemimpin-pemimpin di Washington DC, baik dari sektor publik pemerintahan, kalangan NGO, maupun dari masyarakat swasta. Di depan mereka Menkeu menyampaikan, Indonesia dan AS sudah berada dalam hubungan perdagangan dan investasi yang baik sejauh ini. Meski demikian sesungguhnya masih banyak lagi yang bisa dilakukan lagi lebih dari yang ada saat ini.

“Investasi AS bukanlah yang terbesar di Indonesia. Singapura yang terbesar. Bahkan AS masih di belakang Tiongkok dalam hal ini,” ucapnya.

Oleh karena itu, sejalan dengan berbagai pembangunan infrastruktur yang tengah dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat ini, AS diharapkan mau ikut serta berinvestasi.

“Investasi di sektor infrastruktur adalah kekuatan AS selama ini. Jika kami banyak membuat keterhubungan antara daerah kami, itu tentu akan membuat permintaan terhadap Boeing menjadi naik,” tuturnya.

Dia kemudian menyinggung tiga pemain yang sejauh ini cukup eksis dalam investasinya di Indonesia. Mereka adalah Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. “Bahkan kompetisi di antara kadang bukan tentang uang lagi, melainkan prestise,” imbuhnya meyakinkan.

Di titik ini Menkeu berharap AS tidak hanya memandang Indonesia dan ASEAN dalam konteks visi strategis semata akan tetapi juga dalam aksi dan komitmen yang nyata. Terlebih, AS adalah negara yang dikenal banyak memberikan pengaruh bagi dunia ini dalam berbagai hal.

Dia mengemukakan, sudah semestinya jika eksistensi ini tidak hanya membawa kebaikan bagi AS sendiri namun juga bagi dunia ini. Oleh karena itu, kepemimpin dunia yang dimiliki oleh AS saat ini, bagi Indonesia, bukanlah dalam hal bagaimana negara ini menjadi negara super power. Negara adikuasa. Melainkan bagaimana kita membangun kerjasama dengan negara lain untuk kemudian mejadi model percontohan yang bisa ditiru oleh negara-negara lain di dunia ini.

“Model percontohan yang nantinya bisa dilihat oleh negara-negara lain sebagai sesuatu untuk melihat jauh ke masa depan. Karena perjalanan pembangunan sesungguhnya adalah perjalanan yang panjang,” cetusnya.

Pembangunan bukanlah perjalanan linier di mana suatu bangsa bisa melakukannya sendiri. Mereka selalu butuh inspirasi, butuh pertolongan, dan terkadang juga butuh dorongan. Itulah mengapa, meski Indonesia adalah negara baru yang pendapatan per kapitanya masih di bawah 4 ribu, bahkan lebih rendah dari Brasil, namun saat ini Indonesia telah memiliki apa yang disebut dengan “agen-agen pembangunan”.

“Karena kami percaya bahwa masa depan dunia ini akan semakin baik jika kita bekerja satu sama lain. Kami juga percaya bahwa pengalaman pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan teks-teks dalam buku. Akan sangat berguna ketika para pengambil kebijakan saling, tidak hanya bertukar pandangan, akan tetapi juga saling melihat pengalaman satu sama lain secara langsung,” gugahnya.

Tidak berhenti di situ, Menkeu kemudian mengemukakan pengalamannya saat bekerja sma dengan lembaga donor Amerika, USAID. Dia menuturkan, pada tahun 2000, saat Indonesia tengah beranjak menjadi negara yang terdesentralisasi, USAID menganjurkan agar dibuka ruang-ruang investasi di tingkat pemerintahan lokal. Mereka pun kemudian mengeluarkan program beasiswa kepada 35 perguruan tinggi di daerah-daerah untuk belajar ke beberapa perguruan tinggi di AS.

“Waktu itu ke Atlanta, Georgia State, untuk belajar tentang pemerintahan daerah dan investasi daerah,” imbuhnya.

Dan di titik ini AS mestinya bangga karena saat ini mereka yang pernah belajar di negeri Paman Sam, kini telah menjadi pihak-pihak yang memberi pengaruh terhadap kebijakan-kebijakan di daerah. Banyak dari mereka juga yang saat ini menjadi pemangku kebijakan adalah alumni pendidikan di AS. Oleh karena itu, berangkat dari berbagai hal yang telah banyak dilakukan oleh Indonesia dan AS selama ini, bisa mengantarkan pada kerjasama yang lebih kuat lagi.

“Inilah harapan kami terhadap negara yang telah memberi inspirasi bagi kami dulu, dan saya berharap juga untuk saat ini dan masa-masa yang akan datang,” tutupnya. (jf/rsa)

 

Get Connected