Berita Terkini

Presiden Bank Dunia Kagum Dengan Anak Muda Indonesia

Denpasar - Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, menyatakan kekagumannya dengan upaya yang dilakukan oleh anak-anak muda Indonesia terkait dengan penanganan limbah plastik yang saat ini menjadi masalah global, termasuk Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Presiden Kim saat melakukan pertemuan dengan sejumlah lembaga, komunitas, dan NGO yang bergerak di bidang lingkungan di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, atau lebih dikenal dengan Mangrove Information Center (MIC) di kawasan Suwung Kauh, Denpasar. Jum’at (6/7).

“Saya sangat terkesan dengan usaha para anak-anak muda ini memerangi sampah plastik. Kebersihan laut bukan hanya untuk para surfer dan diver saja, tetapi juga semua akan terkena dampaknya. Sebab lingkungan adalah masalah yang sangat fundamental untuk kehidupan manusia di masa depan,” jelas Presiden Kim.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira , menceritakan apa yang sudah dilakukannya dengan gerakan untuk mendorong regulasi pembatasan kantong plastik melalui pajak dan pelarangan.

“Banjarmasin dan Balikpapan adalah dua kota di Indonesia yang sukses menerapkan 'kantong plastik tidak gratis'. Kedua kota ini adalah kota pesisir yang memiliki banyak sungai, sehingga berkontribusi mencegah sampah kantong plastik masuk ke laut. Sejak diterapkan tahun 2016, penggunaan kantong plastik di Banjarmasin turun 95% dan penjualan tas anyaman hasil kearifan lokal meningkat," Tiza menjelaskan.

Tiza yang dianugerahi UN Environment sebagai Ocean Hero 2018. Juga mengatakan, saat ini Kota Padang, Cimahi, dan Malang juga sedang berproses untuk mengeluarkan peraturan pembatasan kantong plastik.

Dalam Kesempatan yang sama, Kevin Kumala pendiri Avani Eco yaitu penghasil produk-produk bioplastik ramah lingkungan yang berasal dari singkong, jagung, tebu, dan lain-lain mengatakan memang tidak gampang mengurangi penggunaan plastik dalam waktu singkat, tapi bukan berarti tidak bisa.

“Gerakan 3R, Reduce, Reuse, Recycle memang lumayan lama terlihat hasilnya, tapi bukan berarti tidak bisa asal semua orang berkomitmen. Selain itu, kita juga kita harus kampanyekan satu R lagi, yakni Replace atau membuat penggantinya,,” Kevin menuturkan.

Peserta termuda, Melati Wijsen dari Bye Bye Plastic Bags, menceritakan programnya ’Mountain Mamas' yang diciptakan untuk memberdayakan dan membangun kehidupan masyarakat terpencil di pegunungan.

“Kami meminta para ibu di desa-desa terpencil itu untuk membuat tas, lalu kami jual dengan harga yang layak. Keuntungannya 50% kami ambil untuk organisasi kami dan setengahnya lagi kami berikan kepada desa mereka untuk membangun fasilitas umum atau membangun fasilitas pengelolaan sampah dll," jelas Melati.

Presiden Bank Dunia sangat gembira melihat kegiatan-kegiatan yang dilakukan terkait dengan pengurangan penggunaan plastik. Selain itu, Presiden Kim juga mengingatkan  bahwa mereka juga harus mencari cara agar permintaan untuk produk-produk mereka dapat ditingkatkan.

“Produk kalian sangat bagus tetapi harus dipastikan ada demand. Dengan meningkatkan demand kita juga bisa berbangga bahwa makin banyak orang yang sadar akan kesehatan lingkungan," pungkasnya.

Get Connected