5 Juta Pasang Mata Bakal Saksikan Pariwisata NTT (Jelang IMF-WBG Annual Meetings Di Bali, OKTOBER 2018)

PADA tanggal 12 Oktober 2018 mendatang, akan diselenggarakan Pertamuan Tahunan International Monetary Fund dan World Bank Group (IMF-WBG) atau pertemuan keuangan tahunan terbesar di dunia. Pertemuan itu, untuk mendiskusikan perkembangan ekonomi dan keuangan global, kemiskinan, pembangunan, lapangan kerja, dan perubahan iklim. Pertemuan ini diikuti oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral, akademisi, think-thank, anggota parlemen, NGO, dan media dari 189 negara di dunia. Total delegasi mencapai 15.000 orang.

Setelah acara persidangan, Indonesia sebagai tuan rumah akan menyelenggarakan suatu paket wisata raksasa yang diberi nama Voyage to Indonesia. Selain berbagai obyek wisata di Bali, seluruh peserta akan diarahkan untuk mengunjungi destinasi wisata di luar Bali, yang meliputi: Lombok, Komodo, Yogyakarta, Tanah Toraja, Danau Toba dan Banyuwangi. Kunjungan ke Komodo mencakup overland Komodo plus Flores (direncanakan dari Labuhan Bajo sampai Maumere).

Menurut Ketua ASITA NTT, jumlah peserta yang akan mengunjungi Komodo (overland sampai Maumere) sebanyak 2.000 orang.
Peserta acara ini adalah figur-figur publik, dengan jabatan prestisius di negara masing-masing, dan pada akun media sosial mereka, terdapat figur yang jumllah folowersnya di atas 1 juta, dan paling sedikit memiliki 5.000 followers.

Bila 1.000 peserta saja yang mengunjungi Komodo dan pada saat yang sama mereka meng-upload berbagai obyek wisata yang dikunjungi pada akun media sosialnya, maka pada waktu yang sama akan terdapat 5 juta pasang mata yang menyaksikan wisata di NTT (khususnya Flores). Kondisi ini memberi dampak promotif yang sangat luar biasa bagi pariwisata di NTT dan Flores khususnya.
Keuntungan NTT

Apa yang bisa kita lakukan untuk menyambut kedatangan wisatawan berkenaan dengan event tahunan lemabaga keuangan terbesar di dunia tersebut? Pariwisata Bali sudah pasti akan sangat diuntungkan, utamanya melalui penyelenggaraan MICE (Meeting, International Confferece and Exibition). Dengan biaya penyelenggaraan sebesar 800 milyar rupiah, multiplier effectnya bagi masyarakat di Bali sangat luar biasa. Bagaimana dengan NTT, khususnya masyarakat pariwisata di Labuhan Bajo sampai Maumere?

Banyak keuntungan yang bisa dinikmati dari kehadiran 1.000–2.000 peserta yang akan mengunjungi Komodo dan Flores. Berdasarkan survey Kementrian Pariwisata (2017) tentang rata-rata pengeluaran wisatawan asing per kunjungan (rata-rata lama tinggal = 3 hari) di Indonesia US$ (dolar AS) 1,208,79. Bila mereka mengunjungi Komodo/Flores selama 2 (dua) hari, maka pengeluaran per wisatawan sebesar 805,06 dolar AS dan mengingat para peserta tersebut ada para public figure yang membutuhkan layanan istimewa, maka pengeluaran mereka bisa mencapai 2.000 dolar AS. Dengan kurs sebesar Rp. 14.000 per dolar AS, maka total pengeluaran (1.000 peserta) akan mencapai Rp 28 miliar.

Jumlah ini relatif besarnya, tetapi dampak yang diberikan melalui multiplier effect bisa mencapai Rp 75 miliar. Bila jumlah ini dianggap relatif kecil, tidak menjadi masalah, tetapi dampak promosinya bagi pariwisata NTT dan Flores khususnya sangat luar biasa. Paling kurang besaran belanja wisatawan tersebut akan menjadi semacam insentif ekonomi bagi masyarakat pariwisata di NTT dan Flores khususnya, sehingga kepedulian dan kesangguppannya untuk mengambil bagian dalam geliat pariwisata semakin besar.

Sudah tentu dengan kehadiran wisatawan kelas premium tersebut, seluruh stakeholder pariwisata di NTT dan Flores khususnya, perlu menyiapkan segala hal yang diperlukan dengan baik. Tenggang waktu menjelang Oktober 2018 sudah dekat. Hal utama yang perlu dipikirkan dan disiapkan adalah event pariwisata apa yang akan disajikan bagi para peserta? Mengunjungi berbagai obyek wisata yang ada sudah pasti, tetapi apakah hanya ini? Tentu tidak. Perlu dipikirkan event tertentu untuk memenuhi rasa ingin tahu dan kebutuhan peserta.

Prinsipnya kita berdagang. Semakin banyak event dan komoditas yang disiapkan dan ditawarkan akan semakin banyak. Dampak ekonomi kepariwisataan akan diukur dari besaran pengeluaran wisatawan, dan bagaimana pengeluaran wisatan tersebut didistribusikan kepada seluruh pelaku kepariwisataan. Semakin besar pengeluaran wisatawan dan distribusinya semakin merata pada para pelaku kepariwisataan pada segmen hulu, intermediate dan hilir, akan menciptakan dampak kepariwisataan yang semakin baik.

Berkaca ada kondiri riil saat ini, rasanya para pelaku kepariwisataan di NTT, dan Flores khususnya belum sepenuhnya siap untuk tune-in dalam menyambut kunjungan wisatawan kelas premium tersebut. Itu berarti perlu gerakan bersama. Gubernur, Bupati, para pelaku ekonomi (pariwisata), komponen masyarakat, dan pihak terkait lainnya perlu menyikapi event ini melalui suatu rencana jangka pendek yang terpadu dan bisa dilaksanakan.

Selain objek wisata berkelas yang sudah tersedia, fasilitas hotel, transportasi, rumah makan, cindermata, dan kebutuhan wisatawan lainnya harus disiapkan dengan baik. Mudah-mudahan sejumlah hotel yang sudah ada bisa mengantisipasi kebutuhan kamar (terutama VIP) dengan baik, demikian juga unit hotel yang sedang dibangun dan diharapkan dalam waktu dekat telah rampung. Kebutuhan sarana transportasi yang nyaman dan aman, menjadi syarat utama.

Dengan peristiwa tenggelamnya kapal di Danau Toba, dan sejumlah kejadian di Perairan Labuan Bajo, aspek keamanan dan kenyamanan perlu mendapat perhatian. Karena itu ketersediaan sarana transportasi darat dan laut yang benar-benar savety perlu dipikirkan. Tentu masih banyak hal, terkait layanan publik yang perlu dipikirkan, seperti air bersih, listrik, komunikasi dan kota yang bersih.

Kiranya semua ini menjadi bagian dari pergumulan kita dalam waktu dekat, sehingga kehadiran wisatawan kelas premium tersebut, walaupun dalam waktu yang relatif singkat, memiliki manfaat, baik dalam jangka pendek, maupun sebagai kapitalisasi untuk jangka panjang. Momen ini sangat langka, karena penyelenggaraan Annual Meeting ini dilaksakanan setiap 3 (tiga) tahun diluar AS. Tahun ini di Indonesia, dua tahun berikutnya di AS, dan tahun ketiga baru dilaksanakan diluar AS. Karena itu, bila digilir pada 189 negara anggota IMF, Indonedia baru kebagian menyelenggarakan event ini 567 tahun kemudian.

Penulis: Frits O Fanggidae Dosen FE-UKAW Kupang
Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada www.victorynews.id

Get Connected