IMF, Tari Kecak dan Sharing Economy

Bukan perkara mudah memberi makna atas kegiatan Annual Meetings IMF-World Bank yang akan dihelat di Bali kurang dari tiga bulan kedepan (8 -14 Oktober 2018). Dibandingkan dengan kerja teknis dan koordinatif yang meski terbilang kompleks namun Indonesia memiliki pengalaman panjang menjadi host untuk ragam kegiatan kolosal skala internasional, sebut saja Konferensi Asia Afrika (KAA), APEC CEO Summit, Asian Games, hingga ajang Miss World yang sukses di dihelat oleh Indonesia.

Kita semua mafhum betapa diranah publik, nama besar IMF sering disandingkan begitu saja dengan atribut-atribut kapitalisme yang oleh ekonom kiri di cap sebagai biang keladi atas banyak krisis yang melanda dunia. Tidak hanya itu, tudingan sumir perihal efek buruk globalisasi semisal kemiskinan, pengangguran, ketimpangan hingga perdagangan manusia ikut dijejalkan begitu saja ke pundak lembaga kerjasama multilateral dibidang keuangan tersebut.

Ruang diskursus di Indonesia perihal Dana Moneter Internasional atau IMF juga didominasi oleh insight laten yang sumir tersebut, dimulai dengan sebuah foto, yang menunjukkan gesture Michel Camdessus, selaku Managing Director IMF kala itu, yang terlihat jumawa melipat tangan menyaksikan Presiden Soeharto menandatangani kesepakatan, kesediaan Indonesia menjadi pasien IMF pada krisis 1998, hingga saran privatisasi sejumlah BUMN penting serta liberalisasi sektor strategis, adalah sebagian diantara saran-saran IMF yang acap kali diributkan.

Di tanah air, daftar diatas masih bisa panjang jika dikaitkan dengan bahasan utang luar negeri, baik oleh pemerintah maupun swasta yang pembahasannya pasang-surut mengikuti gerak rupiah terhadap Dolar Amerika.

Kanal media sosial bahkan dibanjiri thread tentang utang luar negeri seirama dengan pelemahan rupiah, bahkan diskusinya bisa melube hingga ke topik-topik lain diluar nalar misalnya hubungan ULN dengan wacana bumi datar atau bulat, meski ada juga thread yang sudah agak maju misalnya situasi yang kita alami sekarang lebih merupakan pengambilan utang yang berlebih (overborrowing) ataukah pemberian utang yang berlebihan (overlending).

Perang gagasan diwilayah publik tidak terhindarkan, memanfaatkan hampir seluruh media, seolah hendak merefleksikan debat sengit dan tak berkesudahan pada ranah teoritik antara Kubu Neo-Klasik dan Kubu Strukturalis tentang manfaat dan mudharat kerjasama keuangan dan pembangunan antar negara.

Debat ini tentu sangat baik, tidak saja bagi warga dunia, tapi justru bagi para pihak yang terlibat langsung dengan isu tersebut, seperti pemerintah, lembaga multilateral seperti IMF, Bank Dunia hingga kelompok masyarakat sipil.

Debat ini bahkan diyakini telah memberi jalan bagi sejumlah penyesuaian penting atas paradigma dan agenda aksi para pihak tersebut diatas, sebut saja negara-negara yang dahulu bersikukuh untuk menghindari pergaulan bebas pada palagan ekonomi dan keuangan seperti Tiongkok, Rusia dan negara-negara amerika latin, kini justru menjadi negara avant garde pengguna resep pergaulan bebas di ranah keuangan dan pembangunan.

Pada sisi lain, penyesuaian juga sangat kental terasa didalam tubuh IMF dan Bank Dunia, tidak saja pada level normatif namun mengalir jauh hingga tataran praktis, sebagai contoh pada Annual Meetings IMF-WBG 2018 di Bali Oktober nanti IMF justru memberi ruang debat yang luas bagi kemajuan serta inklusivitas ekonomi dan keuangan syariah, bahkan IMF mendorong implementasi Core Principle on Zakat and Waqaf, hingga isu tentang bantuan sosial (BANSOS).

Tema-tema yang diusung oleh IMF-WB diatas agak berkebalikan dengan doktrin utama Konsensus Washington yang seolah membatu dengan norma efisiensi sebagai jalan tunggal meraih pertumbuhan, atau dikampus disebut sambil guyon sebagai TINA atau There Is No Alternatives.

Penyesuaian-penyesuaian inilah yang menjadi penanda penting tentang keterhubungan, yang akhirnya mendorong semua pihak untuk saling menyesuaikan diri tidak terkecuali IMF dan Bank Dunia dalam mengikat makna atas peran dan keberadaanya masing-masing, paling tidak publik di Indonesia kini mafhum bahwa keterhubungan (globalisasi) adalah kenyataan yang alih-alih harus ditolak dengan ragam cara dan argumentasi justru perlu dimanfaatkan sebaik mungkin, inilah yang saya sebut makna pertama tentang manfaat ke-saling-hubungan.

Tarian Sinergi

Persaingan telah lama diyakini sebagai elan gerak dari pasar terutama dalam mencapai keseimbangan demi keseimbangan, meski demikian saat ini sulit untuk menyandarkan persaingan semata sebagai energi untuk bertumbuh dibidang ekonomi. Bahkan ditengah sengitnya persaingan sektor manufaktur dan perdagangan, tetap saja terlihat dengan telanjang betapa kerjasama (cooperation) adalah tulang punggung ragam kegiatan ekonomi.

Resi Walmiki penulis Wiracarita Ramayana tentu tak akan pernah membayangkan betapa penggalan-penggalan hikayat dan kisahnya dalam epos Ramayana telah menjadi mesin uang paling atraktif (revenue generator) bagi empat banjar pada Pada Desa Adat Pecatu Kabupaten Badung Provinsi Bali.

Tak tanggung-tanggung, dalam sekali perform, Tari Kecak yang memainkan penggalan dari babakan Ramayana di Pura Uluwatu tersebut bisa menghimpun penonton hingga 500 orang setiap harinya, dengan HTM sebesar 100.000 rupiah, itu berarti setiap hari desa tersebut memperoleh aliran pendapatan paling sedikit 50 Juta Rupiah atau 1 Miliar Rupiah Sebulan atau berkisar 12 Miliar Rupiah pertahun, hanya dari sebuah tarian indah berdurasi 60 menit.

Tanpa kerjasama, sulit membayangkan tarian ini bisa menjadi mesin uang bagi Desa Uluwatu sekaligus menghidupkan sanggar tari dan kesenian yang ada didesa tersebut, tak berhenti sampai disitu, aliran manfaat atas Tari Kecak ini mengalir jauh hingga ke-para penari, pendukung pentas hingga penyedia dupa, kostum dan kembang, aliran manfaat ini akan berjejalin dengan sektor lainnya dalam perekonomian domestik Bali dan menjadi pendorong perekonomian Indonesia.

Tak banyak yang melihat, sinergi indah antara Gerak Tangan Resi Walmiki di India ribuan tahun lalu yang menulis wiracarita Ramayana terhubung secara imajiner dengan Tari Kecak di Pura Uluwatu Bali dan hasrat melancong warga dunia yang menyaksikan dari dekat tari kecak tersebut, sinergi tersebut telah ikut mencipta harmoni dipalagan ekonomi tidak saja bagi dunia, namun juga bagi Indonesia, Bali, dan Desa Adat Pecatu.

Perihal semangat sinergi inilah kita melihat banyak lembaga lokal, nasional, internasional baik disektor publik maupun korporasi yang membangun nilai-nilai kelembagaanya dengan menanamkan semangat untuk saling bersinergi, sebut saja IMF yang setiap tiga tahun menghelat pertemuan tahunannya tidak dikantor pusat mereka di Washington D.C, namun dihelat di salah satu dari 189 negara anggota.

Hasrat IMF untuk bersinergi tidak saja secara simbolik terlihat pada diberikannya kehormatan pada negara anggota untuk menghelat pertemuan tahunan-nya (Annual Meetings) namun juga dapat dibaca pada forum-forum seminar, diskusi hingga regional briefing yang melibatkan kelompok masyarakat sipil dan akademisi, dengan topik-topik yang unik mengikuti konteks dan tempat penyelenggaraan pertemuan tahunan dilaksanakan.

Setidaknya penanda ini dapat kita cecap sebagai semangat IMF-Bank Dunia untuk terus terbuka bersinergi, bahu-membahu untuk saling bekerjasama dengan seluruh negara dan warga dunia untuk perekonomian yang lebih baik, inilah makna kedua perihal kolaborasi dalam sebuah tarian sinergi.

Ekosistem Ekonomi Berbagi

Saat ini kita tengah menikmati platform anyar kegiatan bisnis yang semakin ringkas, sederhana namun berdampak masif, meski situasi ini ditopang oleh perkembangan teknologi namun semangat berbagi ini sebenarnya sejak lama jamak kita temui dalam kehidupan sehari-hari warga kita mulai dari pelosok hingga perkotaan, meski demikian kegiatan berbagi tersebut tidak komersil dan skalanya masih terbatas.

Ekonomi berbagi ini secara samar-samar mulai merambat melampaui batas dan sekat budaya hingga negara, sebut saja mobilisasi bantuan skala besar berbasis media sosial untuk pengungsi Rohingya, meski masih sebatas donasi namun melihat mode pengumpulan-nya yang berbasis media daring bukan tidak mungkin warga dunia akan memperoleh skim baru dalam mobilisasi dibidang keuangan untuk saling membantu namun tetap menguntungkan.

Oktober nanti kemampuan berbagi Indonesia akan diuji, menerima kehormatan sebagai host kegiatan pertemuan tahunan bagi 189 negara yang berhimpun didalam Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia, akan berlangsung 2.000 pertemuan paralel selama acara berlangsung, dengan Bali khususnya Nusa Dua sebagai palagan utamanya.

Momentum ini benar-benar menjadi titik kisar bagi kemampuan pelaku ekonomi lokal-nasional untuk memperdalam kesaling hubungan, memper-erat kolaborasi dan sinergi serta mengembangkan platform ekonomi berbagi.

Saya membayangkan tidak saja para penari Kecak di Pura Suci Uluwatu yang akan menghirup wangi manfaat atas forum ini, namun juga oleh petani mente di Pulau Muna yang mente-nya dijadikan penganan penghantar minum teh pada 2.000 forum paralel pada Annual Meetings IMF-WB begitu juga nelayan tangkap di Pulau Buton yang sejenak sumringah atas permintaan daging tuna segar, rajungan, cumi dan udang oleh ratusan chef yang tengah berjibaku menyiapkan kudapan lezat bagi 12.500 orang delegasi pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali.

Kita menyambut pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali pada bulan oktober 2018, seraya terus menanti-nanti gerangan makna baru atas kenyataan tentang kesaling-hubungan antar tiap warga dunia (Globalisasi) yang niscaya baik dibidang ekonomi maupun pembangunan, seperti juga keniscayaan tentang dunia baru yang lebih adil dan sejahtera (*)

Penulis : Syamsul Anam, Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam Universitas Muhammadiyah Kendari, dan Pengajar pada Jurusan Ilmu Ekonomi FEB Universitas Halu Oleo Kendari.
Artikel ini sebelumnya telah dimuat pada kendaripos.co.id

Get Connected