Pariwisata: Katalisator Pembangunan dan Sumber Devisa Masa Depan

Bulan Juli yang lalu, kampanye pemasaran pariwisata Indonesia “Wonderful Indonesia” meraih penghargaan Most Popular Both Awards dan Most Outstanding Both Awards pada pameran pariwisata Beijing International Travel Expo (BITE) 2018 yang dilaksanakan di China National Convention Center. Pada Januari yang lalu, Indonesia juga meraih penghargaan di bidang inovasi wisata dari United Nation World Tourism Organization (UNWTO).

Sederet penghargaan dunia terhadap keberhasilan pariwisata Indonesia ini tidak luput dari peran dan keseriusan Pemerintah dalam membangun industri pariwisata. Sejak tahun 2014, Sektor pariwisata selalu masuk dalam Rencana Kerja Prioritas Pemerintah. Keseriusan tersebut juga terlihat dengan ditandatanganinya Peraturan Presiden Nomor 21 tentang Bebas Visa Kunjungan bagi 169 negara selama 30 hari, yang dimaksudkan untuk memudahkan wisman berkunjung ke Indonesia.

Keseriusan Pemerintah ini menunjukkan adanya terobosan dalam paradigma pembangunan Indonesia dibanding sebelumnya yang lebih cenderung bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam yang ada di perut bumi, seperti minyak, batu bara, timah, emas dan lainnya. Saat ini Pemerintah mencoba melakukan langkah pasti dan konkret dengan mengubah sektor pariwisata yang selama ini hanya sekunder, menjadi sektor primer.

Sektor pariwisata dianggap mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi yang strategis karena merupakan industri yang paling sustainable dan menyentuh hingga ke level bawah masyarakat. Selain itu, performa industri pariwisata setiap tahunnya juga selalu mengalami peningkatan.

Tren positif yang terus berlanjut

Menurut The Travel and Tourism Competitiveness Report tahun 2017, pariwisata Indonesia kini menempati posisi ke-42 dari 136 negara tujuan wisata. Naik dua peringkat dari tahun sebelumnya. Data ini menunjukkan tren positif kunjungan wisatawan ke Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama tahun 2017, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 14,04 juta kunjungan, atau naik sebesar 21,88 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada tahun 2016 yag berjumlah 11,52 juta kunjungan. Presiden Joko Widodo sendiri menargetkan ada 20 juta wisatawan yang bisa datang ke Indonesia pada tahun 2019 nanti. Angka ini ekuivalen dengan Rp 280 triliun yang bisa menjadi devisa negara.

Kesadaran Pemerintah bahwa pariwisata hari ini sudah dianggap sebagai katalisator pembangunan haruslah diapresiasi. Artinya, sektor pariwisata adalah faktor yang bisa mempercepat proses pembangunan itu sendiri, seperti pembangunan infrastruktur dan akses transportasi. Impak lebih lanjutnya adalah memperbanyak kesempatan kerja, mempercepat pemerataan pendapatan, meningkatkan pajak negara, serta retribusi daerah.

Tidak hanya itu, hal ini juga bisa mendorong pertumbuhan pembangunan wilayah yang memiliki potensi alam dan potensi sejarah. Muara dari semua ini adalah pengaruh secara signifikan terhadap pendapatan negara.

Secara khas, dampak positif dari peningkatan industri pariwisata, khususnya pada negara-negara berkembang, jelas terlihat dalam kehidupan sehari-hari selama dua dekade terakhir. Yang paling populer adalah tumbuh dan berkembangnya usaha-usaha kuliner, terutama yang berbasis masakan khas daerah. Selain itu juga cindera mata yang menonjolkan ornamen dan keunikan lokal, turut menjadi dampak lanjutan dari keseriusan pengelolaan terhadap industri wisata. Belum lagi pelestarian arsitektur tradisional dan gedung-gedung bersejarah, munculnya grup pemandu wisata dan penerjemah, tumbuhnya lembaga pendidikan dan pelatihan pariwisata, pertumbuhan ekonomi digital dari agen-agen perjalanan dan wisata, hingga berkembangnya bisnis penginapan pada hampir setiap daerah tujuan wisata.

Manifestasi kesadaran itu tampak pada kebijakan pemerintah yang telah menetapkan sepuluh daerah prioritas tujuan pariwisata, antara lain: Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu, Candi Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, dan Morotai. Tidak berhenti di situ, Pemerintah juga menopangnya dengan membangun infrastruktur guna mempermudah akses menuju destinasi yang diharapkan menjadi idola baru para wisatawan. Tidak lupa, para investor pun diajak turut serta membangun berbagai kebutuhan yang dapat membuat nyaman para wisatawan lewat berbagai investasi.

Sepuluh daerah yang menjadi prioritas tersebut memiliki semua syarat untuk menjadi tujuan wisata yang akan membuat banyak kalangan datang hingga kemudian, diharapkan, akan menceritakan pengalaman baik itu ke seluruh dunia. Di titik ini, keterlibatan warga harus menjadi perhatian khusus yang mesti dilakukan oleh Pemerintah. Pasalnya, arsitektur pariwisata Indonesia tidak sekadar keindahan alamnya, akan tetapi juga tradisi dan kebudayaannya.

Oleh karena itu, dibutuhkan secara mendasar adanya edukasi terhadap publik agar muncul kesadaran bahwa kita semua adalah bagian tak terpisahkan dari industri ini. Misalnya, warga diajak untuk senantiasa mempertahankan nilai adat-istiadat dan budaya khas yang mereka miliki sebagai pembeda dari tujuan wisata lainnya. Output dari semua itu adalah terwujudnya pelayanan yang paripurna terhadap wisatawan.

Pembangunan berkelanjutan

Saat ini, dunia telah menyadari bahwa pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi yang penting. Bahkan negara seperti Arab Saudi saja tengah menggarap proyek spektakulernya di sekitar Laut Merah yang digadang-gadang akan menjadi destinasi wisata termegah di Timur Tengah. Kesadaran ini muncul tidak hanya karena mereka tidak akan bisa selamanya mengandalkan minyak akan tetapi juga karena mereka mulai menyadari bahwa pariwisata adalah sumber pendapatan negara yang cukup besar.

Di bawah komando sang putra mahkota Pangeran Salman, negara petrodolar itu mulai mengubah orientasi pembangunannya lewat Visi 2030. Dalam visi tersebut, Arab Saudi mengubah diri menjadi lebih terbuka dan mengembangkan sektor rekreasi dan wisata sebagai sumber pemasukan negaranya.

Tidak tanggung-tanggung, lewat visi tersebut konstruksi 'Kota Hiburan' yang berlokasi di Qiddiya ini dibangun sejak April 2016 lalu. Lokasi yang berada di barat daya Kota Riyadh ini memiliki luas 334 km per segi dan akan dilengkapi dengan fasilitas olahraga bermotor dan kebun binatang. Kota hiburan ini diklaim akan menyaingi Walt Disney dan taman mewah lainnya.

Indonesia, dengan letak geografis yang strategis, keanekaragaman bahasa dan suku bangsa, keadaan alam, flora dan fauna, peninggalan purbakala, serta peninggalan sejarah, seni, dan budayanya, merupakan modal terbesar yang kita miliki dalam upaya mengembangkan dan memajukan pariwisata.

Sektor pariwisata, jika benar pengelolaannya, sesungguhnya adalah sektor penggerak perekonomian yang bahan bakunya tidak akan pernah habis. Bila dikembangkan secara terencana dan terpadu, peran sektor pariwisata akan melebihi sektor migas yang selama ini menjadi primadona sumber pendapatan negara.

Jika Indonesia mampu dan berhasil membangun pariwisata dengan baik, bukan tidak mungkin sumber perekonomian Indonesia yang dulu dibelah menjadi dua, yakni pendapatan migas dan pendapatan non-migas, akan berubah menjadi pendapatan pariwisata dan pendapatan non-pariwisata.

Get Connected